Error message

Deprecated function: The each() function is deprecated. This message will be suppressed on further calls in _menu_load_objects() (line 579 of /home/bkpsdmb3lt1m/public_html/includes/menu.inc).

CUTI


yes PEMBERIAN CUTI PNS


PENGERTIAN

  • Cuti adalah keadaan tidak masuk kerja yang diizinkan dalam jangka waktu tertentu yang diberikan kepada PNS.
  • Tujuan pemberian cuti adalah :
    • Untuk memberikan kesempatan istirahat bagi PNS dalam rangka menjamin kesegaran jasmani dan rohaninya.
    • Untuk keperluan PNS yang bersangkutan.
  • Cuti PNS terdiri dari : 
    • Cuti Tahunan.
    • Cuti Sakit.
    • Cuti Karena Alasan Penting.
    • Cuti Besar.
    • Cuti Bersalin. 
    • Cuti Di Luar Tanggungan Negara (CLTN).

 

DASAR HUKUM

  • PP No. 24 Tahun 1976.
  • SKB Menteri Agama, Menteri Tenaga Kerja, dan Menteri Pendayagunaan Aparatur dan Reformasi Birokrasi Tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama.
  • Surat Edaran Kepala BAKN No. 01/SE/1977.

 

PERSYARATAN

Syarat-syarat Umum Pengajuan Cuti

  • Surat pengantar dari satuan/unit kerja/SKPD yang ditujukan kepada Kepala BKPPD Kabupaten Belitung Timur.
  • Surat permohonan cuti dari PNS/CPNS dengan menyebutkan jenis dan lamanya cuti.
  • Permohonan cuti PNS golongan I dan II ditujukan kepada kepala BKPPD Kabupaten Belitung Timur.
  • Permohonan cuti PNS golongan III dan IV serta eselon III dan IV ditujukan kepada Sekretaris Daerah Kabupaten Belitung Timur dengan tembusan kepada Kepala BKKPD Kabupaten Belitung Timur.
  • Permohonan cuti eselon II ditujukan kepada Bupati Belitung Timur dengan tembusan kepada Kepala BKKPD Kabupaten Belitung Timur.

 

Cuti Tahunan

  • PNS yang telah bekerja sekurang-kurangnya 1 (satu) tahun secara terus menerus.
  • Lamanya cuti tahunan adalah 12 (dua belas) hari kerja.
  • Cuti tahunan tidak dapat dipecah-pecah hingga jangka waktu yang kurang dari 3 (tiga) hari kerja.
  • Untuk mendaptkan cuti tahunan PNS bersangkutan mengajukan permintaan secara tertulis kepada pejabat yang berwenang memberikan cuti.
  • Cuti tahunan diberikan secara tertulis oleh pejabat yang berwenang memberikan cuti.
  • Cuti tahunan yang tidak diambil dalam tahun yang bersangkutan dapat diambil dalam tahun berikutnya untuk paling lama 18 (delapan belas) hari kerja termasuk cuti tahunan dalam tahun yang sedang berjalan.
  • Cuti tahunan yang tidak diambil lebih dari 2 (dua) tahun berturut-turut, dapat diambil dalam tahun berikutnya untuk paling lama 24 (dua puluh empat) hari kerja termasuk cuti tahunan dalam tahun yang sedang berjalan.

 

Cuti Alasan Penting

  • PNS berhak atas cuti karena alasan penting, antara lain ibu, bapak, isteri/suami, anak, adik, kakak, mertua, atau menantu sakit keras atau meninggal dunia.
  • Salah seorang anggota keluarga yang dimaksud dalam point 1 meninggal dunia dan menurut ketentuan hukum yang berlaku PNS yang bersangkutan harus mengurus hak-hak dari anggota keluarganya yang meninggal dunia itu.
  • Melangsungkan perkawinan yang pertama.
  • PNS yang menjalani kewajiban keagamaan (ibadah umroh) dengan melampirkan bukti surat pendaftaran sebagai peserta ibadah.
  • Lamanya cuti ditentukan oleh pejabat yang berwenang memberikan cuti untuk paling lama 2 (dua) bulan.
  • Selama menjalankan cuti, PNS yang bersangkutan menerima penghasilan penuh.

 

Cuti Bersalin

  • Untuk persalinan anak yang pertama, kedua, dan ketiga (setelah CPNS/PNS) PNS wanita berhak atas cuti bersalin.
  • Untuk persalinan anaknya yang keempat dan seterusnya, kepada PNS wanita diberikan Cuti Luar Tanggungan Negara (CLTN).
  • Lamanya cuti bersalin tersebut adalah 1 (satu) bulan sebelum dan 2 (dua) bulan sesudah persalinan.
  • Untuk mendapatkan cuti bersalin, PNS yang bersangkutan harus mengajukan permintaan secara tertulis kepada pejabat yang berwenang memberikan cuti, dilampirkan surat keterangan dokter tentang kehamilan 32 minggu.
  • Cuti bersalin diberikan secara tertulis oleh pejabat yang berwenang memberikan cuti.
  • Selama menjalankan cuti bersalin PNS wanita yang bersangkutan menerima penghasilan penuh.

 

Cuti Sakit

  • PNS yang sakit selama 1 (satu) atau 2 (dua) hari berhak atas cuti sakit, dengan ketentuan, bahwa ia harus memberitahukan kepada atasannya.
  • PNS yang sakit lebih dari 2 (dua) hari sampai dengan 14 (empat belas) hari berhak atas cuti sakit, dengan ketentuan bahwa PNS yang bersangkutan harus mengajukan permintaan secara tertulis kepada pejabat yang berwenang memberikan cuti dengan melampirkan surat keterangan dokter.
  • PNS yang menderita sakit lebih dari 14 (empat belas) hari berhak atas cuti sakit, dengan ketentuan bahwa PNS yang bersangkutan harus mengajukan permintaan secara tertulis kepada pejabat yang berwenang memberikan cuti dengan melampirkan surat keterangan dokter yang ditunjuk oleh menteri kesehatan.
  • Cuti sakit sebagaimana dimaksud pada point 3 diberikan untuk waktu paling lama 1 (satu) tahun.
  • Cuti sakit sebagaimana dimaksud pada point 3 dapat ditambah untuk paling lama 6 (enam) bulan apabila dipandang perlu berdasarkan surat keterangan dokter yang ditunjuk oleh menteri kesehatan.
  • PNS yang tidak sembuh dari penyakitnya dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud pada point 4 dan 5, harus diuji kembali kesehatannya oleh dokter yang ditunjuk oleh menteri kesehatan.
  • Apabila berdasarkan hasil pengujian kesehatan sebagaimana dimaksud pada point 6, PNS yang bersangkutan belum sembuh dari penyakitnya, maka ia diberhentikan dengan hormat dari jabatannya karena sakit dengan mendapat uang tunggu berdasarkan peraturan peundang-undangan yang berlaku.
  • PNS wanita yang mengalami gugur kandungan berhak atas cuti sakit untuk paling lama 1 1/2 (satu setengah) bulan.
  • Untuk mendapatkan cuti sakit sebagaimana dimaksud pada point 8, PNS yang bersangkutan harus mengajukan permintaan secara tertulis kepada pejabat yang berwenang memberikan cuti dengan melampirkan surat keterangan dokter atau bidan.
  • PNS yang mengalami kecelakaan dalam dan oleh karena menjalankan tugas kewajibannya sehingga ia memerlukan perawatan berhak atas cuti sakit sampai sembuh dari penyakitnya, PNS yang bersangkutan menerima penghasilan penuh.

 

Cuti Besar

  • PNS yang telah bekerja sekurang-kurangnya 6 (enam) tahun secara terus menerus berhak mendapatkan cuti besar yang lamanya 3 (tiga) bulan.
  • PNS yang menjalani cuti besar tidak berhak lagi atas cuti tahunannya dalam tahun yang bersangkutan.
  • Untuk mendapatkan cuti besar, PNS mengajukan permintaan secara tertulis kepada pejabat yang berwenang memberikan cuti.
  • Cuti besar diberikan secara tertulis oleh pejabat yang berwenang memberikan cuti.
  • Cuti besar dapat digunakan oleh PNS untuk memenuhi kewajiban agama (contoh: ibadah haji).
  • Cuti besar dapat ditangguhkan pelaksanaanya oleh pejabat yang berwenang untuk paling lama 2 (dua) tahun, apabila kepentingan dinas mendesak.
  • Selama menjalankan cuti besar, PNS menerima penghasilan penuh.

 

Cuti Luar Tanggungan Negara (CLTN)

  • CLTN bukan hak, oleh sebab itu permintaan CLTN dapat dikabulkan atau ditolak oleh pejabat yang berwenang memberikan cuti. Pertimbangan pejabat yang bersangkutan didasarkan untuk kepentingan dinas.
  • PNS yang bekerja sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun secara terus menerus, karena alasan pribadi yang penting dan mendesak dapat diberikan CLTN untuk paling lama 3 (tiga) tahun. Jangka waktu tersebut dapat diperpanjang untuk paling lama 1(satu) tahun apabila ada alasan yang penting untuk memperpanjangnya.
  • CLTN  hanya dapat diberikan dengan SK pejabat yang berwenang memberikan cuti setelah  mendapat persetujuan dari Kepala BKN.
  • Permintaan perpanjangan CLTN yang diajukan  sekurang-kurangnya 3 bulan sebelum CLTN berakhir.
  • PNS yang menjalankan CLTN dibebaskan dari jabatannya dan jabatan yang lowong itu dengan segera dapat diisi.
  • Selama menjalankan CLTN tidak berhak menerima penghasilan dari negara dan tidak diperhitungkan sebagai masa kerja PNS.
  • PNS yang telah selesai menjalakan CLTN wajib melaporkan diri secara tertulis kepada pimpinan instansi induknya.
  • Pimpinan instansi induk yang telah menerima laporan dari PNS yang telah selesai menjalankan CLTN berkewajiban:
    • Menempatkan dan memperkerjakan kembali apabila ada lowongan dengan terlebih dahulu mendapat persetujuan dari Kepala BKN.
    • Apabila tidak ada lowongan, maka pimpinan instansi induk melaporkan kepada Kepala BKN untuk kemungkinan disalurkan penempatannya  pada instansi lain.
    • Apabila Kepala BKN tidak dapat menyalurkan penempatan PNS tersebut, maka Kepala BKN memberitahukan  kepada pimpinan instansi induk agar memberhentikan PNS dengan hak-hak kepegawaian menurut peraturan perundnag-undangan yang berlaku.
  • Khusus bagi CLTN untuk persalinan, berlaku ketentuan-ketentuan sebagai berikut:
    • Permintaan CLTN tidak dapat ditolak.
    • PNS yang menjalankan CLTN  tidak dibebaskan dari jabatannya, atau dengan kata lain, jabatannya tidak dapat diisi oleh orang lain.
    • Tidak memerlukan persetujuan Kepala BKN.
    • Lamanya cuti sama dengan lamanya cuti bersalin yakni 1 (satu) bulan sebelum dan 2 (dua) bulan sesudah persalinan dengan melampirkan surat keterangan dokter tentang kehamilan 32 minggu.
    • Selama menjalankan CLTN tersebut tidak menerima penghasilan dari negara dan tidak diperhitungkan sebagai masa kerja PNS.